Halal Bihalal dan Silaturahmi IKAPTK Trenggalek dengan Bupati Trenggalek

Bertempat di Puncak Bukit Ngares Trenggalek, Kamis (27/7)  Dr Emil Elestianto Dardak, M.Sc,  hadiri kegiatan halalbihalal dan ajang silaturahmi Ikatan Alumni Pendidikan Tingggi Kepamong Prajaan (IKAPTK) asal Trenggalek. Halalbihalal bersama  IKAPTK tersebut  selain dihadiri oleh oleh Bupati juga dihadiri oleh purna bakti pegawai,  IKAPTK yang masih mengabdi, Praja maupun purna praja STPDN. Dalam kesempatan tersebut  Drs.Samsuri, purna bakti  pejabat dilingkup Pemerintah Kabupaten Trenggalek yang saat ini menjadi wakil ketua Komisi I DPRD Trenggalek  yang diminta untuk memberikan sambutan menyampaikan “IKAPTK memang dididik untuk menjadi abdi negara, sehingga sudah sewajarnya sebagai abdi negara kita mengabdikan penuh diri kita untuk kemajuan bangsa ini”. “Saya prihatin dengan alumni yang diberikan amanah oleh pemerintah untuk menjadi pemangku pimpinan kewilayahan kecamatan yang memiliki paradigma lain dengan jabatannya. Camat sekarang ini tupoksinya tidak seperti dahulu, tidak mempunyai kewajiban untuk tinggal di wikayah yang dipimpinnya, saya prihatin dengan kondisi ini”, ungkap Samsuri kepada tamu undangan yang hadir.

“Dari dulu sampai sekarang, maupun sesuai dengan Undang-undang nomor 53 belum ada pergeseran tugas dan fungsi camat sebagai pemangku kewilayahan kecamatan, yang berubah itu cuma berkurang kewenangannya”. imbuhnya. “Sehingga sudah seyogyanya camat itu berada dan tinggal di wilayah teritorialnya”. Banyak hal disampaikan oleh senior lulusan kepamong prajaan ini. Sedangkan Bupati Trenggalek dalam sambutannya   menyampaikan “pendidikan kepamongprajaan ini sudah berevolusi cukup jauh, namun karakter yang didoktrinkan sampai sekarang sebagai abdi negara tidak pernah berubah dari dulu sampai dengan sekarang”.

Lulusan kepamong prajaan ini memang sudah dipersiapkan dan dicetak untuk menjadi pemimpin kepemerintahan tidak seperti STAN yang arahnya lebih bidang-bidang keuangan. Esensi dalam menjalankan pemerintahan yang paling cocok untuk pamong keprajaan  ini adalah camat yang menguasai teritorial yang harus mengamankan wilayah yang didukung beberapa posisi seperti kasi tramtrib dan posisi-posisi lainnya”. “Makanya ketika ada sesuatu permasalahan di wilayah, saya selalu bertanya kepada camat. Karena saya yakin informasi dari camat itu pasti valid, makanya saya sepakat dengan apa yang disampaikan dengan bapak Samsuri tadi Camat itu harus tinggal di wilayah teritorialnya”. “Dengan tinggal di wilayahnya camat pastinya akan lebih tahu kondisi yang ada di wilayanya tersebut. Posisi camat sendiri haruslah dipilih karakter yang memang tepat pada posisi tersebut, karena untuk bisa mengendalikan masyarakat di teritorialnya . Sehingga bila ada demo yang mengendalikan bukanlah kepala dinas melainkan camat. Saya contohkan seperti di Watulimo kemarin ketika saya mendapat informasi intelegent tentang adanya polemik tentang pembangunan rumah susun, maka saya perintahkan camat untuk terjun kelapangan, dan akhirnya selesai tidak timbul polemik berkepanjangan.

Karena dengan adanya konflik bisa saja program dari pusat yang akan turun dengan mudah bisa ditarik kembali, makanya peran camat sangat diperlukan. Mengingat pentingnya peran camat  ini, maka diperlukan orang yang tepat untuk menempati posisinya agar bisa mengkondisikan wilayah teritorial yang dipimpinnya. Mulai sekarang tidak ada lagi anggapan terdapat  jabatan seperti posisi buangan dan upaya menghukum pejabat untuk dibuang. Kita harus merubah paradigma itu dan memposisikan siapa yang tepat ditempatkan pada posisi ini, melihat luasan Trenggalek dua kali lipat luasan Singapura, sehingga penguatan teritorial sangatlah penting”, imbuhnya. ( Humas)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.